Sebuah Kado Kecil untuk Peri-Peri Kecilku*
Oleh; Doamad Tastier
Catatan Harian 14 Februari 2013
“Cinta adalah satu-satunya bunga yang tumbuh dan mekar tanpa bantuan musim” ( K. Gibran, The Broken Wings ).
Aku sebenarnya tidak begitu faham apa hubugan valentine dengan cinta. Februari dengan valentine dan segala tetek bengek yang berkaitan dengan valentine’s day; lagian seingatku memang aku tak pernah merayakan hari valentine dan bahkan kadang tak mengingatnya sama sekali ( hanya beberapa saja yang aku ingat ). Namun apa salahnya jika pada hari ini aku coba menulis tentang valentine’s day. Semoga tak ada yang mengkafirkanku atau sekedar iseng membocorkan ban motorku setelah aku posting tulisan ini; capek mas / mba nambalnya.
Banyak versi tentang sejarah hari valentine. Belum ada sumber yang bisa meyakinkanku tentang sejarah perayaan ini. Dan rasanya tidak perlu aku tulis beberapa versi sejarah itu, karena bisa di-browsing dengan mudah toh, hehe.
Ketika jariku mencoba menulis tulisan ini. Aku merasa ada sebuah kebodohan dan teriakan dari keyboard notebook-ku yang terus membodoh-bodohkanku; tahu apa kau? Kurang lebih seperti itu. Mereka terus menolak untuk aku ketik. Aku paksa. Dan, ah masa bodoh. Aku hanya ingin menulis, that’s it.
Bolehlah sekiranya aku mengutip mutiara Gibran “Cinta adalah satu-satunya bunga yang tumbuh dan mekar tanpa bantuan musim”. Ia bisa tumbuh kapan saja dan di mana saja. Dan bagi yang suka nonton film horror Indonesia (yang ‘filmnya suka tidak jelas itu). Mungkin tahu tokoh Jelangkung dengan semboyannya “datang tak dijemput. Pulang gak diantar”. Mungkin sepeti itu.
Aku buta sastra, tak tahu apa maksud Mas Gibran sesungguhnya dalam The Broken Wings itu. Sehingga aku minta ma’af, terutama pada Mas Gibran dan para pengagumnya, jika pemahaman aku salah total dan tidak nyambung dengan apa yang dimaksud sampean, Mas Gibran. Semoga sampean mengerti bahwa jika teks yang sampean tulis bebas untuk ditafsirkan oleh pembacanya. Walaupun pada saat itu Derrida belum lahir dan menggagas tentang ‘kematian subjek/penulis’ dalam tulisan.
Lalu bagaimana jika tanggal 14 februari dijadikan hari kasih sayang? Pada dasarnya (terlepas dari sejarah suram valentine’s day) kasih dan sayang adalah sifat Tuhan; Ar-Rohman dan Ar-Rohim. Nama itu termasuk dalam nama-nama Tuhan yang baik (Asma Al-Husna) yang ada 99- walaupun aku yakin nama Tuhan tak terbatas pada 99 nama itu. Apalagi manusia memang diperintahkan untuk saling menyayangi dan mengasihi. Dan diketahui bersama; pers, ibu, pendidikan, pahlawan, buruh, dan lain sebagainya, ternyata punya harinya masing-masing; kasih sayang pun sepertinya iri ingin punya hak yang sama seperti mereka (ngaco ya ? ? hehe).
Sehingga pertanyaan selanjutnya adalah deviasi/penyelewengan dari pemaknaan dan pengejawantahan kasih dan sayang itu?
Penyelewengan itu pasti ada di manapun dan di apapun. Pas perayaan idul fitri? banyak penyelewengan. Banyak toh yang merayakannya kaya perayaan valentine sekarang ini. Agustusan ? ada juga yang menyeleweng. Lalu apa lagi valentine? Aku rasa selagi masih di dunia, keburukan tak akan bisa terlepaskan. Salah satu tempat yang (katanya) paling steril dari keburukan (atau meminjam dari kamus agama; dosa) adalah di surga kelak.
So what to do?
“You are loved” sebuah film pendek yang sarat dengan pesan suci kasih sayang. Bahkan, bagi yang punya otak dan bisa berfikir, adalah sebuah tamparan. Bagaimana kasih sayang dan ketulusan yang hakiki diilustrasikan. Bukan dengan benda yang mahal atau berharga (bagi keumuman), tapi hanya sebuah bunga kertas yang dibuat dengan payah dalam keterbatasan. Namun melampaui itu semua adalah ketulusan kasih sayang terhadap sesama. (Ooaallahh,,, tumben pisan ngomongnya kaya orang bener cah…haha).
Dan mungkin itulah yang disebut oleh Asep Andri dengan 'hakikat memberi'; memberikan apa yang menurut kita paling berharga kepada orang yang benar-benar membutuhkan.
Satu kutipan menarik dari Mbah Gandi di ending film itu “love never claims, it ever gives” cinta tak pernah menuntut. Ia justru memberi.
Yo ketika valentine kan ‘pacar’ ngasih coklat, bunga, boneka, kasih sayang dan lain sebagainya? It gives toh?
Of course. Tapi pemberian itu kan menuntut. Setidaknya menuntut balasan Cinta. Love claims love as well. Bahkan kadang lebih dari itu; pemenuhan hasrat seksual. So is it still called love according to Mbah Gandi? Masihkah dianggap cinta oleh Gandi? (lah sih..kok malah khotbahin jeh?? Hehe).
Satu hal lagi yang menarik dari film itu; tak ada dialog sama sekali. Aku jadi terfikir, apa karena cinta itu memang terlalu absurd untuk diverbalkan? Entah lah.
Terlepas dari itu semua, wahai peri-peri kecilku. Paman coba bungkus kado cinta ini untuk menemani kalian bermain. Sebelum suatu saat nanti kado cinta itu tebagi dengan calon bibi kalian…hehe
Be Mine, Valentine..!!
*Qothrotun Nadya dan Muhammad Alfin Mubarok


ciusss??? ^_^
BalasHapusyg ngepost nya aja gak baca jadi gak ngeti...it artikel curhat atau apa .haha
BalasHapus