FatsOeN-(11/2) Pihak lembaga mengeluarkan kebijakan
baru di tahun ajaran 2013, yaitu mekanisme pembayaran SPP yang mengharuskan
mahasiswa mendatangi salah satu bank yang ditunjuk oleh lembaga.
Tetapi Kebjiakan tersebut dinilai
merepotkan bagi mahasiswa. Salah seorang mahasiswa yang tidak mau disebutkan
identitasnya mengungkapakan mekanisme tersebut terlalu merepotkan. “Sebenarnya
saya merasa malas kalau harus mendatangi bank, mending kalau dekat. Tempatnya
kan jauh mas. Kalo bisa transfer aja, kan lebih gampang”. Paparnya.
Namun ketika hendak dimintai
keterangan mengenai mekanisme tersebut, pihak administrasi sedang tidak ada di
tempat.
Sehubungan dengan hal tersebut, Pembantu Rektor II, Prof. Dr. Wahidin, M.Pd di
sela-sela kesibukannya menyatakan bahwa mekanisme tersebut adalah bagian dari
proses pembayaran online yang kini sedang dijalankan. Ia mengungkapkan bahwa
mekanisme ini masih harus dikembangkan untuk beberapa tahun kedepan.
“Sebenarnya ini adalah bagian dari proses menuju sistem online, untuk saat ini
memang mahasiswa masih harus mendatangi pihak bank untuk melakukan pembayaran.
Namun untuk beberapa tahun kedepan mudah-mudahan sudah berjalan karena masih
dalam pengembangan”, ungkapnya.
Ia menambahkan jika sistem online
tersebut sudah berjalan, mahasiswa bisa melakukan transfer dari bank manapun
dan bahkan untuk pengisian Kartu Pendaftaran Program Studi (KPPS) juga bisa
dilakukan secara online.
Ketika disindir mengenai kebijakan yang mengharuskan mahasiswa mengajukan
cuti jika telat membayar SPP ia mengungkapkan bahwa sebenarnya pihaknya telah
memberikan perpanjangan batas waktu pembayaran, “Masalah itu kami sudah
perpanjang batas waktunya sampai tanggal 18 Januari. Jika melebihi batas
tersebut mahasiswa harus mengajukan surat permohonan cuti. Jika tidak,
bisa-bisa DO (Drop Out),” tandasnya.
Di sisi lain, Mahasiswa menilai kebijakan tersebut memberatkan mahasiswa
yang tidak mampu. Karena tidak semua mahasiswa IAIN adalah orang berada. Erdi,
salah seorang Mahasiswa tarbiyah mengatakan kebijakan tersebut terlalu
berlebihan, seharusnya mahasiswa diberikan dispensasi karena mahasiswa juga
ingin belajar bersama. “ Menurut saya kebijakan itu kurang tepat, bagaimana
jika memang mahasiswanya benar-benar tidak mampu. Karena tidak semua mahasiswa
dari kalang orang kaya, ada juga yang harus bekerja terlebih dahulu. Harusnya
dikasih dispensasi”, ungkapnya.
Senada dengannya, Mulyono yang juga mahasiswa
tarbiyah ini mengnungkapkan kebijakan tersebut masih memberatkan mahasiswa,
“Kalau menurut saya dikasih dispensasi terlebih dahulu dalam jangka beberapa
bulan, kasihan kan kalau misalkan memang mahasiswanya benar-benar tidak mampu
bayar”. Tambahnya. (Prim/Ziest)

0 komentar:
Posting Komentar