Sabtu, 13 April 2013
Jumat, 05 April 2013
“Kalian harus berusaha untuk menemukan suara kalian sendiri”
Dead Poets Society dan Pendidikan Kita Hari Ini
“Kalian harus berusaha untuk menemukan suara kalian sendiri”
Kalimat tersebut saya kutip dari film yang saya tonton beberapa hari lalu berjudul Dead Poets Society. Film yang disutradarai oleh John Seale itu menceritakan tentang seorang guru sastra bernama John Keating yang diperankan secara wajar oleh Robin Williams. Ia di film tersebut, yang akrab dipanggil Captain, oh My Captain oleh murid-muridnya itu, dikisahkan sebagai pengajar yang memiliki cara yang unik dan kadang aneh ketika menyampaikan materi kepada murid-muridnya. Film ini sekilas mengingatkan kita tentang kekuatan puisi dan usaha untuk mendefinisikannya dalam kehidupan institusi pendidikan yang kaku dan membosankan. Tapi secara keseluruhan, film yang di rilis tahun 2009 ini tidak melulu berbicara tentang puisi atau sastra an sich, atau karenanya termasuk ke dalam golongan film yang sok filosofis dan cenderung melangit. Tidak! Film ini secara sederhana hanya ingin menjelaskan makna satu hal kepada kita: Manusia.
Salah satu yang menarik di film ini adalah bagaimana institusi pendidikan di anggap sebagai sesuatu yang bisa melupakan kita pada makna manusia dan tentunya kemanusiaan itu sendiri. Akademi Welton yang digambarkan di film tersebut sebagai sekolah unggulan, dengan semboyan empat pilarnya (tradition, honor, dicipline, excellence) dan mengklaim banyak mencetak orang-orang berkualitas dan sukses dalam karier ternyata memiliki permasalahan serius dalam proses pengajarannya: Metodenya yang kolot, kaku, dan menganggap murid-muridnya serupa robot yang harus dijejali oleh berbagai program supaya memiliki manfaat adalah pendidikan yang nampak tidak manusiawi. Mereka direduksi sedemikian rupa dalam satu homogenitas pencapaian tanpa memperhatikan keunikan dan kecenderungan masing-masing. Mempersetan minat dan bakat. Yang akhirnya, meminjam bahasa di film tersebut, hanya memproduksi lulusan-lulusan yang terpenjara dalam bingkai. Dalam satu adegan di film tersebut, John Keating menyuruh murid-muridnya mendekat dan kemudian mendengar dengan khidmat foto-foto alumni yang di pajang di lorong sekolah, kemudian ia berkata: .... mereka menunggu sampai semuanya terlambat... untuk menciptakan kehidupan mereka sampai sedetailnya dari apa yang mereka mampu? Tapi.... mereka terkurung dalam sebuah bingkai. Namun jika kamu perhatikan lebih dekat... Kamu akan dengar bisikan yang mereka tinggalkan untukmu. ... Dengar, kamu mendengarnya? ... “petiklah, petiklah hari”. Sebelum layu. Sebelum terlambat. Hingga kita sadar bahwa potensi kita tak dibatasi oleh apapun, termasuk kurikulum.
Tapi dead poet society tak kemudian selesai hanya menjadi sebuah film berdurasi sekitar 2 jam dan memiliki ending tanpa penyelesaian yang berarti. Semangatnya bergaung dan seperti mengugatan dengan keras sistem pendidikan kita hari ini. Tentu menjadi ironi sendiri, ketika kita masih percaya bahwa pendidikan bisa menjadi titik tolak untuk memperbaiki segalanya, di indonesia pendidikan kemudian ikut terpelintir kedalam kekacauan. Pendidikan kini hanyalah panggung bagaimana kebodohan dan kebebalan dipentas-meriahkan. Pendidikan yang lebih merayakan hasil ketimbang proses. Pada titik inilah pendidikan akan lepas dari kemanusiaan. Ia akan menjadi hal lain yang begitu asing dan mengasingkan—yang tidak akan menjadi apapun kecuali hafalan teori dan fosil-fosil ide tanpa kita mengerti untuk diapakan kecuali sekedar diingat. Padahal .... pendidikan adalah untuk belajar berpikir untuk diri sendiri. Sehingga kemanusiaan bahkan diri kita akan lenyap dalam proses pendidikan macam itu. Dan kita tak mesti kaget jika ternyata institusi pendidikan di Indonesia serupa akademi welton di film tersebut, bahkan lebih buruk.
Seperti UN (Ujian Nasional) yang merupakan satu dari banyak sistem pendidikan di Indonesia yang kontroversial karena dianggap menciderai tujuan pendidikan. UN entah kenapa sampai sekarang masih dianggap sebagai cara ampuh untuk menakar kemampuan siswa, memukul rata, bahkan mengeneralkan keberhasilan pencapaian peserta didik melalui sederet nilai-nilai keramat.
Dehumanisasi Peserta Didik Melalui UN
Saya jadi ingat satu adegan yang mungkin terbaik di film tersebut: Ketika akan memulai pelajarannya tentang Memahami Puisi, John Keating menyuruh murid-muridnya merobek halaman pengantar yang ditulis oleh Dr. J. Evans Pritchard, Ph.D. “Sekarang, Saya ingin kalian merobek halaman tersebut... lakukan... robek halaman itu! Tidak ada lagi Mr. J. Evans Pritchard. Sekarang, kalian akan belajar kembali cara berpikir untuk diri kalian sendiri”. Dan begitulah ia memulai kelasnya. Barangkali John Keating sadar seutuhnya bahwa yang ia hadapi adalah manusia yang tentunya memiliki cara pandang dan kemampuan yang berbeda dalam memahami sesuatu. Ia tidak hendak secara kasar membatasi kemampuan anak didiknya oleh sebuah pakem tertentu. Ini jelas adalah sebuah pencerahan mengingat pendidikan kita nyaris serupa dunia industri: Produk pendidikan (peserta didik) akan mengalami sortir dengan berbagai tahap dan standarisasi yang dipatok oleh penguasa industri. Jika produk tersebut tidak sesuai dengan kualifikasi, maka akan di cap produk gagal (tidak lulus) dalam legitimasi lembaran kertas bernama ijazah. Sistem tersebut jelas mereduksi nilai-nilai kemanusiaan karena menganggap bahwa peserta didik adalah objek mati yang tidak mempunyai kehendak apapun. Pemikiran apapun. Keunikan setiap individu peserta didik sebagai manusia telah diabaikan mentah-mentah dengan logika pembendaan tersebut. Inilah yang dimaksudkan dengan proses dehumanisasi peserta didik.
Model soal pilihan ganda yang digunakan dalam UN juga telah mematikan unsur kreatifitas dan inisiatif peserta didik. Sebab peserta didik diharuskan memilih opsi-opsi jawaban yang sudah tersedia pada lembar jawabannya, tanpa diijinkan untuk mengembangkan daya kreasinya. Model soal pilihan ganda dengan jawaban pasti ini juga akhirnya menimbulkan budaya instan pada proses pembelajaran peserta didik, sehingga pendidik pun menyelenggarakan pembelajaran dengan model drilling yang menuntut peserta didik untuk sekedar menghapal jawaban-jawaban yang sudah pasti, tanpa harus memikirkan darimana datangnya jawaban tersebut.
Penyelenggaraan UN juga telah melecehkan kemerdekaan pendidik dalam berpikir dan berbuat. Pemerintah hanya seolah-olah saja berusaha menyenangkan hati para pendidik dengan pemberlakuan KTSP atau pembaharuan kurikulum yang pada prinsipnya membebaskan pendidik dan satuan pendidikan dalam penerapan kurikulum sesuai dengan keunikan potensi sekolah dan daerah masing-masing. Pasalnya, meskipun KTSP telah ditetapkan pemberlakuannya, pemerintah masih saja ingin menilai keberhasilan pencapaian kompetensi peserta didik dengan UN yang jelas-jelas tidak saling bersinergi. Sebab, apa yang telah dipelajari oleh peserta didik yang ada di sekolah satu dengan sekolah lainnya jelas-jelas berbeda karena penerapan KTSP antara masing-masing sekolah tentunya juga berbeda. Pada akhirnya, pendidiklah yang harus mengalah dengan mengikuti kemauan pemerintah yang telah menetapkan standar-standar tertentu atas pencapaian hasil belajar peserta didik melalui UN, jika mereka tidak ingin mendapatkan berbagai hukuman seperti vonis ‘tidak lulus’ maupun ‘sekolah tidak favorit’.
Menurut Seto Mulyadi, belajarnya peserta didik untuk menghadapi UN yang semata karena takut dihukum ini merupakan bentuk lain kekerasan terhadap anak . Hukuman yang dimaksud tentunya adalah stempel ‘tidak lulus’ dan ‘tidak dapat ijazah’. Terlebih lagi, berbagai tekanan terhadap peserta didik yang berlebihan tersebut dapat mengakibatkan peserta didik mengalami depresi berat bahkan sampai ada yang meninggal dunia . Inilah kenapa barangkali Dead Poets Society berakhir dengan cerita bunuh dirinya Neil Perry, salah satu murid dari John Keating yang sangat ingin menjadi aktor namun dilarang oleh orang tuanya. Film tersebut seperti secara lantang mengatakan bahwa kekerasan dalam proses pendidikan akan mengantarkan kedalam sebuah kematian, apapun bentuknya.
Selain itu, penilaian pencapaian kompetensi peserta didik melalui UN adalah praktek pengabaian kecerdasan afektif dan psikomotorik yang dimiliki oleh peserta didik. UN jelas-jelas bertentangan dengan konsep kompetensi lulusan yang mencakup unsur afektif dan psikomotorik, selain unsur kognitif dalam konstitusi . Padahal fungsi dari masing-masing aspek kecerdasan tersebut saling terkait satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan . Bila seorang peserta didik yang tidak lulus UN dianggap ‘tidak cerdas’ secara kognitif, maka hal tersebut merupakan bentuk pengingkaran terhadap keutuhan kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh manusia.
Pada akhirnya, proses dehumanisasi peserta didik inilah yang digambarkan sebagai proses yang tidak memanusiakan peserta didik, sebab proses pendidikan adalah sesuatu yang intangible sehingga dengan adanya UN sebagai alat untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik, telah terjadi praktek reifikasi , yang digambarkan oleh Paulo Freire sebagai proses dehumanisasi . Pada titik inilah kita semakin sadar tentang perlunya pendidikan yang humanis.
Pendidikan humanis tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi mengajak untuk menghayati, menyelami, serta memahami berbagai bentuk ekspresi ragam manusia. Oleh karena itu, dapat disebut tidak semata menyentuh intelektual, tetapi lebih jauh adalah sisi kemanusiaannya itu sendiri, baik dalam konteks individual maupun sosio-kultural. Dengan kata lain, pendidikan humanis bertujuan untuk pengangkatan manusia ke arah insani atau lebih tegas lagi “memanusiakan manusia” melalui sebuah proses pembudayaan dan pemberdayaan. Seperti puisi karya Whitman yang dibaca oleh John Keating dalam film itu, O saya, O hidup adalah pertanyaan. Yang berulang-ulang. Dari perjalanan tak berujung. Akan ketidak-setiaan. Dari kota yang berisi. Dengan kebodohan. Apa yang baik ditengah-tengahnya, O saya, O life. Bahwa kita di sini dan memiliki ciri khas. Bahwa sebuah kuasa sedang berlangsung, dan mungkin kita adalah peran utama. Kita tak sepenuhnya tahu bagaimana mengakhirinya. Tapi film tersebut memilih berakhir dengan sangat dingin dan meninggalkan banyak persoalan yang sejak awal dihadirkan. Barangkali, John Seale tak hendak membuat filmnya menjadi utopis dan klise, terlebih apa yang jadi permasalahannya adalah sistem dalam sebuah institusi; tidak mungkin bisa selesai dengan hanya kehadiran seorang John Keating. Tapi film tersebut semakin membuat kita yakin, ruang pendidikan tak dibatasi tembok kelas, kurikulum ataupun apapun, ia tak berbatas sama halnya dengan kemampuan berfikir manusia. Dan inilah yang membuat kata-kata John Keating bergaung di kepala kita semua: Kapan dan dimanapun kita sedang berfikir, pastikan... kalian harus menemukan suara kalian sendiri.[]
(Asep andri)
Rabu, 27 Februari 2013
Dana UKM-HMJ Masih Proses
Fats0eN –
IAIN Cirebon,. Hingga menjelang pertengahan Februari dana kegiatan
UKM dan HMJ belum diberikan dan belum diketahui berapa jumlah yang akan
digelontorkan. Dalam hal ini Purek III, Prof. Dr. H. Cecep Sumarna, M.Ag saat dimintai
penjelasan oleh METHODA (14/02) di ruang
kerjanya menyatakan, “Sampai saat ini belum ada keputusan final, karena masih
dalam proses. Makanya nanti regulasi keuangan mungkin baru bisa diproses akhir
maret” ujarnya.
Oleh karena itu
UKM-HMJ yang ingin mengadakan kegiatan, tidak bisa mengandalkan dana yang
seharusnya mereka dapatkan. Ketua HMJ EDSA (English Department Student
Assosiation), Rifqi, menyatakan (14/02), “ untuk acara English Contest kemaren,
selain dari uang pendaftaran, kami harus cari dana kesana-kemari, termasuk ngutang ” ”Tuturnya. Lebih lanjut dia menambahkan bahwa dari 12
juta biaya acara tersebut, pihak lembaga hanya meng-ACC 3 jt dan itupun belum
bisa mereka dapatkan.
Rajudin selaku ketua
himpunan mahasiswa Bahasa Arab (ITLA) didampingi dengan Rian Najarudin yang
menjabat sebagai Kabid DPO mengatakan, “acara GBA (Gebyar Bahasa Arab) sejawa
tahun kemarin, biaya yang dikeluarkan minimal 30 jutaan dan lembaga memberikan
tidak secara keseluruhan dan untuk menutupi itu mereka pun bekerja sama dengan
pihak lain, Insya Allah kami akan mengadakan acara GBA tingkat nasional kembali bulan April depan.” Ungkapnya. Lebih
lanjut mereka mengharapkan bahwa pihak lembaga ikut memberikan dukungan moril
yang lebih tidak hanya dukungan financial saja. (Rania)
Selasa, 26 Februari 2013
Pada Mulanya Adalah ‘Kata’
Oleh; Doamad Tastier*
‘Kata’ secara sederhana mungkin hanya
merupakan sebuah sistem tanda. Ia merupakan sebuah penanda untuk menunjuk satu
hal tertentu. Ketika sesuatu yang enak dipandang mata mungkin kita namakan
dengan ‘cantik’. Dengan ‘kata’ semua konsep dalam pikiran manusia terungkap.
Banyak hal yang berawal dari kata. Hubungan laki-laki dan
wanita bisa menjadi halal dengan ‘kata’ (Qobul). Bisa menjadi harampun dengan ‘kata’
(talaq). Mungkin ‘kata’ terlupakan
dalam pikiran kita. Padahal ia begitu dekat. Ia merupakan unsur yang tak
terpisahkan dalam kehidupan kita. Bagaimana kita mengabstraksikan apa yang kita
rasa, kita lihat, kita cium, kita dengar adalah dengan ‘kata’.
Tuhan mewahyukan firmanNya berupa ‘kata’. Sehingga
Subagio dalam salah satu puisinya mengatakan bahwa “kita percaya kepada Tuhan
karena ‘kata’”. Muhammad pun pertama kali menerima titah Tuhan adalah berupa ‘kata’;
iqro. Ia menyampaikan kepada umatnya lewat ‘kata’. Kaumnya mengejek sebagai
orang gila; melalui ‘kata’. Dan mungkin kadang tak terpikirkan pula; pertama
kali yang diajarkan oleh orang tua ketika menyambut kelahiran sang anak adalah ‘kata’.
‘Kata’ juga bisa menjadi alat persuasi yang
ampuh. Bagaimana Soekarno membakar semangat Pejuang Indonesia adalah dengan ‘kata’.
Bagaimana virginitas terenggutpun sering kali lewat ‘kata’; gombalisme. Ia bisa
menajdi madu juga bisa jadi racun. Bahkan apa yang anda baca sekarang pun
hanyalah kumpulan ‘kata’.
Pada
mulanya adalah ‘kata’. Mungkin benar adanya. Namun saya yakin ada hal yang tak
bisa dijangkau oleh ‘kata’ dalam diri manusia. Yaitu keterbatasan ‘kata’ dalam
menyingkap hakikat. Sukar sekali memahami apa yang dimaksud oleh Hallaj ketika
ia berujar “Ana Al-Haq”. Di situ ‘kata’ tak bisa lagi pongah untuk mewakili
sesuatu secara utuh. Ia mempunyai keterbatasan. Karena bagaimanapun ‘kata’
ternyata tak mampu menyelamatkan sufi agung dari Mursia ini.
Ah,
mungkin sudah terlalu klise untuk mengutip kata-kata Juliet dalam Romeo and
Juliet; sebuah karya agung Shakespeare. Namun agaknya tak terlalu salah juga.
“What’s in a name?
That which we call a rose
By any other name would smell as sweet.”
That which we call a rose
By any other name would smell as sweet.”
[“Apa arti nama?
Yang kita sebut mawar
Akan tetap harum biarpun bernama beda”]
Yang kita sebut mawar
Akan tetap harum biarpun bernama beda”]
Apalah arti nama (kata)
jika essensinya tetap sama? mungkin seperti itu yang dimaksud dalam lakon
Shakespeare ini; ketika nama keluarga menjadi batas atas hubungan mereka.
Sehingga
saya rasa terlalu berlebihan ketika manusia masih mempermasalahkan bagaimana
Tuhan harus dinamakan. Toh, mau dinamakan apa dan sebagainya, selagi essensi
yang dimaksud adalah Robbul ‘alamin
tetap tak mengurangi ketuhanan Tuhan. Sebagaimana mawar yang tak akan hilang
keharumannya jika disebut dengan nama lain.
Namun
memang tak bisa dielakan, dalam berbagai hal, ‘kata’ membawa implikasi yang
berbeda. ‘Kata’ akan menjadi begitu
mahal ketika ia dikaitkan, misalnya, dengan identitas. Suatu barang akan
menjadi mahal dengan menjual merk
dagang yang bonafid. Yang tentunya dibarengi dengan kualitas yang terjamin.
Atau
‘kata’ juga bisa menuntut persyaratan-persyaratan tertentu. Seperti misalnya
jika ingin ada ‘kata haji’ di depan namanya; maka melaksanakan ibadah haji
terlebih dahulu. Atau ‘Gus’ bagi anak Kyai. Jika tidak, ya jangan harap. Atau
untuk membeli franchise suatu perusahaan
harus membayar jutaan, milyaran bahkan trilyunan rupiah.
Namun
dengan keterbatasan ‘kata’ setidaknya ia harus semaksimal mungkin agar bisa
mewakili apa yang ditandai. Supaya ia (signified)
sesuai dengan penandanya (signifier).
Sehingga ia tak hanya akan menjadi ‘kata’ yang membohongi dan penanda yang
menyesatkan. Atau juga sekedar untuk mengejar gengsi semata. Dan mungkin begitu
halnya dari kata IAIN menjadi UIN... [ ]
Wallahu
A’lam Bishowab
*Mahasiswa
Tadris Bahasa Inggris, dan Pegiat LPM FatsOeN
Dua Maling Motor Kena ‘DO’
FatsOeN – IAIN Cirebon,
Tertangkap kamera CCTV membawa kabur motor milik NC (mahasiswa PBI), Sabtu
(19/1), dua orang mahasiswa, RF dan UG kena DO (Drop Out). Dua mahasiswa ini,
RF (semester 6) dan UG (semester 4), kabur bersamaan setelah berhasil menemukan
kunci motor korban. Dari penuturan korban yang turut serta menggerebek
tersangka di tempat tinggalnya. Itu diketahui keduanya masih mahasiswa IAIN.
Keterangan yang
diperoleh METHODA, RF dan UG yang keluar dari gedung PBI tahu betul
target pencuriannya, sedang UG mengendarai motornya sendiri. Kebetulan motor
jenis Honda Beat NoPol E 3627 HI diparkir pemiliknya di depan gedung PBI. NC keluar
gedung karena ada perlu dan tidak tahu kuncinya tertinggal di kelas. Setengah
jam kemudian, NC kembali dan mendapati motornya tidak ada di tempat.
Sontak NC terkejut dan
langsung menanyakan seorang saksi yang kebetulan berada di TKP. Saksi mengiyakan
bahwa motornya baru saja dibawa seseorang. Korban langsung melaporkannya ke
security, dan dimintai STNKnya guna melacak tersangka melalui data CCTV.
Setelah dilacak, security menemukan datanya, dan NC mengantongi bukti untuk
dilaporkan pada pihak kepolisian setempat.
Selama dua minggu, NC
terus mencari keterangan para saksi dan berhasil menelusuri alamat tersangka. NC
menjelaskan, bersama dengan security kampus dan informan, dirinya mendatangi tersangka
di rumahnya, namun tidak ada di tempat. Motor curian tersebut ada di rumah
teman tersangka, dan telah bertransformasi. “Motornya udah beda, skotletnya
hitam, nggak ada spion, nggak ada plat nomor, bannya diganti”, jelas NC saat
ditemui METHODA, Rabu (13/2).
Akibat perbuatannya, RF
dan UG di Drop Out dari IAIN. Salah seorang security kampus Sumarjo menjelaskan,
barang bukti sudah diambil dan dibawa pihak kepolisian. “Pelaku dipecat,
dikeluarkan dari kampus”, tandasnya, Senin (11/2). Kini barang bukti sudah diambil
pemiliknya. Berdasarkan keterangan korban, dirinya merasa sangat dirugikan,
sedang orang tua RF dan UG mengatakan bahwa anaknya belum kembali ke rumah. “Surat
Pencabutan Perkara sudah dibuat, siap ditandatangani saya. Tapi saya belum
tanda tangan sebelum ketemu ama RF”, pungkas NC (Vivi, Josh).
HIMKA GELAR LIGA MATAMATIKA SE-JAWA BARAT YANG KE-13
FatsOeN-IAIN
Cirebon,
Himpunan Mahasiswa Matamatika (HIMKA) Mengadakan liga matematika tingkat SD-SMA Se-Jawa Barat
dengan tema ”Kuasai bilangan dalam genggaman, tuangkan potensi dalam aksi dan
capailah prestasi dalam kompetisi”. Acara yang berlangsung
turun temurun ini adalah acara yang ke13 kalinya diadakan oleh HIMKA dan berlangsung
selama 6 hari sejak tanggal 18 sampai dengan tanggal
23 februari bertempat di ICC IAIN Cirebon.
Lomba
ini diikuti oleh 490 peserta dari seluruh tingkat SD-SMA yang diwakili oleh 50
sekolah. Berbagai macam lomba seperti Lomba Olimpiade
Matematika tingkat SD-SMA, Lomba Hitung Cepat Matematika (LHCM) yang diikuti
oleh tingkat SD-SMP, Lomba cerdas tangkas matematika (PCTM) yang hanya di ikuti
oleh tingkat SMP dan yang terahir adalah lomba rangking 1 matematika yang
diikuti oleh semua kalangan. Selain
itu, acara ini juga memperebutkan
piala bergulir diantaranya piala wali
kota dalam lomba LHCM serta piala
gubernur melalui Lomba Olimpiade matematika.
Habib Qolyubi
selaku ketua pelaksana acara tersebut mengungkapkan bahwa acara ini bertujuan
untuk memotivasi para siswa agar
berprestasi dan berkompetisi, serta
ingin menggali potensi para pelajar di tingkat
SD sampai SMA, ungkapnya dengan semangat. Acara
ini berlangsung sangat meriah dan menegangkan. Seperti
yang di ungkapkan oleh Kevin siswa SMPK Penabur
Cirebon, “jujur
tadi perasaanku deg-degan karena ini baru pertama kalinya
aku ikut lomba olimpiade matematika”, ungkapnya
dengan senyum yang khas. Ia berharap bisa menjadi yang
terbaik dalam acara tersebut.
Ia juga
mengungkapkan hal yang menarik dalam acara tersebut adalah banyaknya perdebatan di bidang ilmu Matematika. Adapun
Zahra Salsabila, siswi
dari SMP Sekarkemuning ini mengungkapkan
bahwa ia merasa nervous ketika
mengikuti acara tersebut. Ia juga mengungkapkan kebanyakan peserta memiliki kemampuan diatas rata-rata. “Pertama sih nervous, soalnya pesertanya pinter-pinter”. Tuturnya kepada
Methoda.
Sementara itu
ketua umum HIMKA Reza Muhammad Zaenal mengungkapkan bahwa acara ini bertujuan
untuk menumbuhkan minat dan motivasi dalam mempelajari matematika sebagai
ratunya ilmu dan ia juga mengungkapkan bahwasanya ini adalah program terbesar dari HIMKA setiap
tahunya dan selalu berjalan dengan baik walaupun ada beberapa kendala
diantaranya yaitu sulitnya menjangkau seluruh sekolah yang ada di Jawa barat
ungapnya dengan tegas. (Pendi)
Mekanisme Kebijakan Semi-Online
FatsOeN-(11/2) Pihak lembaga mengeluarkan kebijakan
baru di tahun ajaran 2013, yaitu mekanisme pembayaran SPP yang mengharuskan
mahasiswa mendatangi salah satu bank yang ditunjuk oleh lembaga.
Tetapi Kebjiakan tersebut dinilai
merepotkan bagi mahasiswa. Salah seorang mahasiswa yang tidak mau disebutkan
identitasnya mengungkapakan mekanisme tersebut terlalu merepotkan. “Sebenarnya
saya merasa malas kalau harus mendatangi bank, mending kalau dekat. Tempatnya
kan jauh mas. Kalo bisa transfer aja, kan lebih gampang”. Paparnya.
Namun ketika hendak dimintai
keterangan mengenai mekanisme tersebut, pihak administrasi sedang tidak ada di
tempat.
Sehubungan dengan hal tersebut, Pembantu Rektor II, Prof. Dr. Wahidin, M.Pd di
sela-sela kesibukannya menyatakan bahwa mekanisme tersebut adalah bagian dari
proses pembayaran online yang kini sedang dijalankan. Ia mengungkapkan bahwa
mekanisme ini masih harus dikembangkan untuk beberapa tahun kedepan.
“Sebenarnya ini adalah bagian dari proses menuju sistem online, untuk saat ini
memang mahasiswa masih harus mendatangi pihak bank untuk melakukan pembayaran.
Namun untuk beberapa tahun kedepan mudah-mudahan sudah berjalan karena masih
dalam pengembangan”, ungkapnya.
Ia menambahkan jika sistem online
tersebut sudah berjalan, mahasiswa bisa melakukan transfer dari bank manapun
dan bahkan untuk pengisian Kartu Pendaftaran Program Studi (KPPS) juga bisa
dilakukan secara online.
Ketika disindir mengenai kebijakan yang mengharuskan mahasiswa mengajukan
cuti jika telat membayar SPP ia mengungkapkan bahwa sebenarnya pihaknya telah
memberikan perpanjangan batas waktu pembayaran, “Masalah itu kami sudah
perpanjang batas waktunya sampai tanggal 18 Januari. Jika melebihi batas
tersebut mahasiswa harus mengajukan surat permohonan cuti. Jika tidak,
bisa-bisa DO (Drop Out),” tandasnya.
Di sisi lain, Mahasiswa menilai kebijakan tersebut memberatkan mahasiswa
yang tidak mampu. Karena tidak semua mahasiswa IAIN adalah orang berada. Erdi,
salah seorang Mahasiswa tarbiyah mengatakan kebijakan tersebut terlalu
berlebihan, seharusnya mahasiswa diberikan dispensasi karena mahasiswa juga
ingin belajar bersama. “ Menurut saya kebijakan itu kurang tepat, bagaimana
jika memang mahasiswanya benar-benar tidak mampu. Karena tidak semua mahasiswa
dari kalang orang kaya, ada juga yang harus bekerja terlebih dahulu. Harusnya
dikasih dispensasi”, ungkapnya.
Senada dengannya, Mulyono yang juga mahasiswa
tarbiyah ini mengnungkapkan kebijakan tersebut masih memberatkan mahasiswa,
“Kalau menurut saya dikasih dispensasi terlebih dahulu dalam jangka beberapa
bulan, kasihan kan kalau misalkan memang mahasiswanya benar-benar tidak mampu
bayar”. Tambahnya. (Prim/Ziest)
Langganan:
Postingan (Atom)
