Oleh; Doamad Tastier*
‘Kata’ secara sederhana mungkin hanya
merupakan sebuah sistem tanda. Ia merupakan sebuah penanda untuk menunjuk satu
hal tertentu. Ketika sesuatu yang enak dipandang mata mungkin kita namakan
dengan ‘cantik’. Dengan ‘kata’ semua konsep dalam pikiran manusia terungkap.
Banyak hal yang berawal dari kata. Hubungan laki-laki dan
wanita bisa menjadi halal dengan ‘kata’ (Qobul). Bisa menjadi harampun dengan ‘kata’
(talaq). Mungkin ‘kata’ terlupakan
dalam pikiran kita. Padahal ia begitu dekat. Ia merupakan unsur yang tak
terpisahkan dalam kehidupan kita. Bagaimana kita mengabstraksikan apa yang kita
rasa, kita lihat, kita cium, kita dengar adalah dengan ‘kata’.
Tuhan mewahyukan firmanNya berupa ‘kata’. Sehingga
Subagio dalam salah satu puisinya mengatakan bahwa “kita percaya kepada Tuhan
karena ‘kata’”. Muhammad pun pertama kali menerima titah Tuhan adalah berupa ‘kata’;
iqro. Ia menyampaikan kepada umatnya lewat ‘kata’. Kaumnya mengejek sebagai
orang gila; melalui ‘kata’. Dan mungkin kadang tak terpikirkan pula; pertama
kali yang diajarkan oleh orang tua ketika menyambut kelahiran sang anak adalah ‘kata’.
‘Kata’ juga bisa menjadi alat persuasi yang
ampuh. Bagaimana Soekarno membakar semangat Pejuang Indonesia adalah dengan ‘kata’.
Bagaimana virginitas terenggutpun sering kali lewat ‘kata’; gombalisme. Ia bisa
menajdi madu juga bisa jadi racun. Bahkan apa yang anda baca sekarang pun
hanyalah kumpulan ‘kata’.
Pada
mulanya adalah ‘kata’. Mungkin benar adanya. Namun saya yakin ada hal yang tak
bisa dijangkau oleh ‘kata’ dalam diri manusia. Yaitu keterbatasan ‘kata’ dalam
menyingkap hakikat. Sukar sekali memahami apa yang dimaksud oleh Hallaj ketika
ia berujar “Ana Al-Haq”. Di situ ‘kata’ tak bisa lagi pongah untuk mewakili
sesuatu secara utuh. Ia mempunyai keterbatasan. Karena bagaimanapun ‘kata’
ternyata tak mampu menyelamatkan sufi agung dari Mursia ini.
Ah,
mungkin sudah terlalu klise untuk mengutip kata-kata Juliet dalam Romeo and
Juliet; sebuah karya agung Shakespeare. Namun agaknya tak terlalu salah juga.
“What’s in a name?
That which we call a rose
By any other name would smell as sweet.”
That which we call a rose
By any other name would smell as sweet.”
[“Apa arti nama?
Yang kita sebut mawar
Akan tetap harum biarpun bernama beda”]
Yang kita sebut mawar
Akan tetap harum biarpun bernama beda”]
Apalah arti nama (kata)
jika essensinya tetap sama? mungkin seperti itu yang dimaksud dalam lakon
Shakespeare ini; ketika nama keluarga menjadi batas atas hubungan mereka.
Sehingga
saya rasa terlalu berlebihan ketika manusia masih mempermasalahkan bagaimana
Tuhan harus dinamakan. Toh, mau dinamakan apa dan sebagainya, selagi essensi
yang dimaksud adalah Robbul ‘alamin
tetap tak mengurangi ketuhanan Tuhan. Sebagaimana mawar yang tak akan hilang
keharumannya jika disebut dengan nama lain.
Namun
memang tak bisa dielakan, dalam berbagai hal, ‘kata’ membawa implikasi yang
berbeda. ‘Kata’ akan menjadi begitu
mahal ketika ia dikaitkan, misalnya, dengan identitas. Suatu barang akan
menjadi mahal dengan menjual merk
dagang yang bonafid. Yang tentunya dibarengi dengan kualitas yang terjamin.
Atau
‘kata’ juga bisa menuntut persyaratan-persyaratan tertentu. Seperti misalnya
jika ingin ada ‘kata haji’ di depan namanya; maka melaksanakan ibadah haji
terlebih dahulu. Atau ‘Gus’ bagi anak Kyai. Jika tidak, ya jangan harap. Atau
untuk membeli franchise suatu perusahaan
harus membayar jutaan, milyaran bahkan trilyunan rupiah.
Namun
dengan keterbatasan ‘kata’ setidaknya ia harus semaksimal mungkin agar bisa
mewakili apa yang ditandai. Supaya ia (signified)
sesuai dengan penandanya (signifier).
Sehingga ia tak hanya akan menjadi ‘kata’ yang membohongi dan penanda yang
menyesatkan. Atau juga sekedar untuk mengejar gengsi semata. Dan mungkin begitu
halnya dari kata IAIN menjadi UIN... [ ]
Wallahu
A’lam Bishowab
*Mahasiswa
Tadris Bahasa Inggris, dan Pegiat LPM FatsOeN

0 komentar:
Posting Komentar