
Oleh: Azis Ibnu Thufail
Sore tadi sekitar jam 16.00, saya menonton acara televisi mengenai kehidupan masyarakat Kalimantan Barat, tepatnya di Desa Gun Tembawang. Dalam acara tersebut diceritakan bagaimana mereka hidup di pelosok negeri yang membuat hidup mereka terasing. Ketika seorang reporter mewawancarai kepala desa setempat, ia mengatakan bahwa pendidikan di desanya tidak berjalan karena tidak adanya infrastruktur yang mendukung dan tidak adanya guru untuk mengajar. Kepala desa tadi melanjutkan,”bendera merah putih yang berkibar di atas tiang itu, tidak berarti bagi warga kami. Indonesia memang sudah merdeka, tapi kami di sini belum merasakan kemerdekaan,”ujarnya saat diwawancarai.
Kondisi seperti ini membuat warga desa ini banyak yang lebih memilih tinggal di Malaysia. Seorang anggota TNI yang sedang berjaga di pos perbatasan, mengatakan warga Malaysia yang berada di perbatasan tidak mengalami kesulitan dalam hidupnya, sedangkan warga indonesia di sini jauh dari kata layak hidupnya.
Ada yang unik dalam acara sore itu ketika dua warga perbatasan Indonesia dan Malaysia saling bertukar pengalaman tentang negaranya masing-masing.
Warga perbatasan Malaysia bertanya: bagaimna kondisi pelayanan kesehatan di daerah anda?
Warga perbatasan Indonesia menjawab: saya tidak pernah mendapatkan pelayanan kesehatan dari pemerintah, saya lebih memilih berobat ke malaysia. Kalau di Malaysia bagaimana?
Warga perbatasan Malaysia menjawab: walaupun kita hidup diperbatasan, tapi setiap bulan pemerintah menggunakan helikopter berkunjung ke sini untuk mengadakan pengobatan gratis.
Yang membuat saya heran adalah ketika pejabat pemerintah kalimantan Barat diwawancarai mengenai warganya yang lebih memilih tinggal di malaysia. Dia menjawabnya dengan enteng sekali, bahwa setiap warga negara bebas untuk pindah kewarganegaraannya jadi anda tidak usah repot-repot memikirkannya.
Ya inilah sekelumit nasib saudara-saudara kita yang hidup diperbatasan, semoga para birokrat dapat peduli terhadap permasalahan di atas, jangan hanya dengan mudah memberi ijin tambang. Tapi warganya tidak dipedulikan.


0 komentar:
Posting Komentar