Pages

Labels

About Me

Foto Saya
Official website LPM FatsOeN IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Labels

Flag Counter

Sabtu, 13 April 2013

Life of Pi: Sebuah Refleksi Keberagamaan



Life of Pi adalah sebuah Film, sekaligus kritikan halus terhadap keberagamaan kita.
Ia sama seperti kita, Piscine Molitor Patel yang akrab dipanggil Pi, tokoh utama di film yang di sutradarai oleh Ang Lee itu, adalah seoarang yang haus dengan kebenaran; Mempertanyakan banyak hal demi mendapatkan keyakinan yang utuh. Hingga secara sadar ia kemudian memutuskan sesuatu: Ia menjadi muslim, kristiani, budhis dan sedikit yahudi. 

Pi barangkali adalah sebuah sindiran telak tentang laku keberagamaan kita. Ia secara polos memparodikan keyakinan buta manusia terhadap suatu dogma yang kadang tak sepenuhnya kita fahami. Keyakinan buta yang kemudian membuat kehidupan agama begitu rigid dan menggerahkan.

Jumat, 05 April 2013

“Kalian harus berusaha untuk menemukan suara kalian sendiri”


Dead Poets Society dan Pendidikan Kita Hari Ini

“Kalian harus berusaha untuk menemukan suara kalian sendiri”

Kalimat tersebut saya kutip dari film yang saya tonton beberapa hari lalu berjudul Dead Poets Society. Film yang disutradarai oleh John Seale itu menceritakan tentang seorang guru sastra bernama John Keating yang diperankan secara wajar oleh Robin Williams. Ia di film tersebut, yang akrab dipanggil Captain, oh My Captain oleh murid-muridnya itu, dikisahkan sebagai pengajar yang memiliki cara yang unik dan kadang aneh ketika menyampaikan materi kepada murid-muridnya. Film ini sekilas mengingatkan kita tentang kekuatan puisi dan usaha untuk mendefinisikannya dalam kehidupan institusi pendidikan yang kaku dan membosankan. Tapi secara keseluruhan, film yang di rilis tahun 2009 ini tidak melulu berbicara tentang puisi atau sastra an sich, atau karenanya termasuk ke dalam golongan film yang sok filosofis dan cenderung melangit. Tidak! Film ini secara sederhana hanya ingin menjelaskan makna satu hal kepada kita: Manusia.
Salah satu yang menarik di film ini adalah bagaimana institusi pendidikan di anggap sebagai sesuatu yang bisa melupakan kita pada makna manusia dan tentunya kemanusiaan itu sendiri. Akademi Welton yang digambarkan di film tersebut sebagai sekolah unggulan, dengan semboyan empat pilarnya (tradition, honor, dicipline, excellence) dan mengklaim banyak mencetak orang-orang berkualitas dan sukses dalam karier ternyata memiliki permasalahan serius dalam proses pengajarannya: Metodenya yang kolot, kaku, dan menganggap murid-muridnya serupa robot yang harus dijejali oleh berbagai program supaya memiliki manfaat adalah pendidikan yang nampak tidak manusiawi. Mereka direduksi sedemikian rupa dalam satu homogenitas pencapaian tanpa memperhatikan keunikan dan kecenderungan masing-masing. Mempersetan minat dan bakat. Yang akhirnya, meminjam bahasa di film tersebut, hanya memproduksi lulusan-lulusan yang terpenjara dalam bingkai. Dalam satu adegan di film tersebut, John Keating menyuruh murid-muridnya mendekat dan kemudian mendengar dengan khidmat foto-foto alumni yang di pajang di lorong sekolah, kemudian ia berkata: .... mereka menunggu sampai semuanya terlambat... untuk menciptakan kehidupan mereka sampai sedetailnya dari apa yang mereka mampu? Tapi.... mereka terkurung dalam sebuah bingkai. Namun jika kamu perhatikan lebih dekat... Kamu akan dengar bisikan yang mereka tinggalkan untukmu. ... Dengar, kamu mendengarnya? ... “petiklah, petiklah hari”. Sebelum layu. Sebelum terlambat. Hingga kita sadar bahwa potensi kita tak dibatasi oleh apapun, termasuk kurikulum.
Tapi dead poet society tak kemudian selesai hanya menjadi sebuah film berdurasi sekitar 2 jam dan memiliki ending tanpa penyelesaian yang berarti. Semangatnya bergaung dan seperti mengugatan dengan keras sistem pendidikan kita hari ini. Tentu menjadi ironi sendiri, ketika kita masih percaya bahwa pendidikan bisa menjadi titik tolak untuk memperbaiki segalanya, di indonesia pendidikan kemudian ikut terpelintir kedalam kekacauan. Pendidikan kini hanyalah panggung bagaimana kebodohan dan kebebalan dipentas-meriahkan. Pendidikan yang lebih merayakan hasil ketimbang proses. Pada titik inilah pendidikan akan lepas dari kemanusiaan. Ia akan menjadi hal lain yang begitu asing dan mengasingkan—yang tidak akan menjadi apapun kecuali hafalan teori dan fosil-fosil ide tanpa kita mengerti untuk diapakan kecuali sekedar diingat. Padahal .... pendidikan adalah untuk belajar berpikir untuk diri sendiri. Sehingga kemanusiaan bahkan diri kita akan lenyap dalam proses pendidikan macam itu. Dan kita tak mesti kaget jika ternyata institusi pendidikan di Indonesia serupa akademi welton di film tersebut, bahkan lebih buruk.
Seperti UN (Ujian Nasional) yang merupakan satu dari banyak sistem pendidikan di Indonesia yang kontroversial karena dianggap menciderai tujuan pendidikan. UN entah kenapa sampai sekarang masih dianggap sebagai cara ampuh untuk menakar kemampuan siswa, memukul rata, bahkan mengeneralkan keberhasilan pencapaian peserta didik melalui sederet nilai-nilai keramat.

Dehumanisasi Peserta Didik Melalui UN
Saya jadi ingat satu adegan yang mungkin terbaik di film tersebut: Ketika akan memulai pelajarannya tentang Memahami Puisi, John Keating menyuruh murid-muridnya merobek halaman pengantar yang ditulis oleh Dr. J. Evans Pritchard, Ph.D. “Sekarang, Saya ingin kalian merobek halaman tersebut... lakukan... robek halaman itu! Tidak ada lagi Mr. J. Evans Pritchard. Sekarang, kalian akan belajar kembali cara berpikir untuk diri kalian sendiri”. Dan begitulah ia memulai kelasnya. Barangkali John Keating sadar seutuhnya bahwa yang ia hadapi adalah manusia yang tentunya memiliki cara pandang dan kemampuan yang berbeda dalam memahami sesuatu. Ia tidak hendak secara kasar membatasi kemampuan anak didiknya oleh sebuah pakem tertentu. Ini jelas adalah sebuah pencerahan mengingat pendidikan kita nyaris serupa dunia industri: Produk pendidikan (peserta didik) akan mengalami sortir dengan berbagai tahap dan standarisasi yang dipatok oleh penguasa industri. Jika produk tersebut tidak sesuai dengan kualifikasi, maka akan di cap produk gagal (tidak lulus) dalam legitimasi lembaran kertas bernama ijazah. Sistem tersebut jelas mereduksi nilai-nilai kemanusiaan karena menganggap bahwa peserta didik adalah objek mati yang tidak mempunyai kehendak apapun. Pemikiran apapun. Keunikan setiap individu peserta didik sebagai manusia telah diabaikan mentah-mentah dengan logika pembendaan tersebut. Inilah yang dimaksudkan dengan proses dehumanisasi peserta didik.
Model soal pilihan ganda yang digunakan dalam UN juga telah mematikan unsur kreatifitas dan inisiatif peserta didik. Sebab peserta didik diharuskan memilih opsi-opsi jawaban yang sudah tersedia pada lembar jawabannya, tanpa diijinkan untuk mengembangkan daya kreasinya. Model soal pilihan ganda dengan jawaban pasti ini juga akhirnya menimbulkan budaya instan pada proses pembelajaran peserta didik, sehingga pendidik pun menyelenggarakan pembelajaran dengan model drilling yang menuntut peserta didik untuk sekedar menghapal jawaban-jawaban yang sudah pasti, tanpa harus memikirkan darimana datangnya jawaban tersebut.
Penyelenggaraan UN juga telah melecehkan kemerdekaan pendidik dalam berpikir dan berbuat. Pemerintah hanya seolah-olah saja berusaha menyenangkan hati para pendidik dengan pemberlakuan KTSP atau pembaharuan kurikulum yang pada prinsipnya membebaskan pendidik dan satuan pendidikan dalam penerapan kurikulum sesuai dengan keunikan potensi sekolah dan daerah masing-masing. Pasalnya, meskipun KTSP telah ditetapkan pemberlakuannya, pemerintah masih saja ingin menilai keberhasilan pencapaian kompetensi peserta didik dengan UN yang jelas-jelas tidak saling bersinergi. Sebab, apa yang telah dipelajari oleh peserta didik yang ada di sekolah satu dengan sekolah lainnya jelas-jelas berbeda karena penerapan KTSP antara masing-masing sekolah tentunya juga berbeda. Pada akhirnya, pendidiklah yang harus mengalah dengan mengikuti kemauan pemerintah yang telah menetapkan standar-standar tertentu atas pencapaian hasil belajar peserta didik melalui UN, jika mereka tidak ingin mendapatkan berbagai hukuman seperti vonis ‘tidak lulus’ maupun ‘sekolah tidak favorit’.
Menurut Seto Mulyadi, belajarnya peserta didik untuk menghadapi UN yang semata karena takut dihukum ini merupakan bentuk lain kekerasan terhadap anak . Hukuman yang dimaksud tentunya adalah stempel ‘tidak lulus’ dan ‘tidak dapat ijazah’. Terlebih lagi, berbagai tekanan terhadap peserta didik yang berlebihan tersebut dapat mengakibatkan peserta didik mengalami depresi berat bahkan sampai ada yang meninggal dunia . Inilah kenapa barangkali Dead Poets Society berakhir dengan cerita bunuh dirinya Neil Perry, salah satu murid dari John Keating yang sangat ingin menjadi aktor namun dilarang oleh orang tuanya. Film tersebut seperti secara lantang mengatakan bahwa kekerasan dalam proses pendidikan akan mengantarkan kedalam sebuah kematian, apapun bentuknya.
Selain itu, penilaian pencapaian kompetensi peserta didik melalui UN adalah praktek pengabaian kecerdasan afektif dan psikomotorik yang dimiliki oleh peserta didik. UN jelas-jelas bertentangan dengan konsep kompetensi lulusan yang mencakup unsur afektif dan psikomotorik, selain unsur kognitif dalam konstitusi . Padahal fungsi dari masing-masing aspek kecerdasan tersebut saling terkait satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan . Bila seorang peserta didik yang tidak lulus UN dianggap ‘tidak cerdas’ secara kognitif, maka hal tersebut merupakan bentuk pengingkaran terhadap keutuhan kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh manusia.
Pada akhirnya, proses dehumanisasi peserta didik inilah yang digambarkan sebagai proses yang tidak memanusiakan peserta didik, sebab proses pendidikan adalah sesuatu yang intangible sehingga dengan adanya UN sebagai alat untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik, telah terjadi praktek reifikasi , yang digambarkan oleh Paulo Freire sebagai proses dehumanisasi . Pada titik inilah kita semakin sadar tentang perlunya pendidikan yang humanis.
Pendidikan humanis tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi mengajak untuk menghayati, menyelami, serta memahami berbagai bentuk ekspresi ragam manusia. Oleh karena itu, dapat disebut tidak semata menyentuh intelektual, tetapi lebih jauh adalah sisi kemanusiaannya itu sendiri, baik dalam konteks individual maupun sosio-kultural. Dengan kata lain, pendidikan humanis bertujuan untuk pengangkatan manusia ke arah insani atau lebih tegas lagi “memanusiakan manusia” melalui sebuah proses pembudayaan dan pemberdayaan. Seperti puisi karya Whitman yang dibaca oleh John Keating dalam film itu, O saya, O hidup adalah pertanyaan. Yang berulang-ulang. Dari perjalanan tak berujung. Akan ketidak-setiaan. Dari kota yang berisi. Dengan kebodohan. Apa yang baik ditengah-tengahnya, O saya, O life. Bahwa kita di sini dan memiliki ciri khas. Bahwa sebuah kuasa sedang berlangsung, dan mungkin kita adalah peran utama. Kita tak sepenuhnya tahu bagaimana mengakhirinya. Tapi film tersebut memilih berakhir dengan sangat dingin dan meninggalkan banyak persoalan yang sejak awal dihadirkan. Barangkali, John Seale tak hendak membuat filmnya menjadi utopis dan klise, terlebih apa yang jadi permasalahannya adalah sistem dalam sebuah institusi; tidak mungkin bisa selesai dengan hanya kehadiran seorang John Keating. Tapi film tersebut semakin membuat kita yakin, ruang pendidikan tak dibatasi tembok kelas, kurikulum ataupun apapun, ia tak berbatas sama halnya dengan kemampuan berfikir manusia. Dan inilah yang membuat kata-kata John Keating bergaung di kepala kita semua: Kapan dan dimanapun kita sedang berfikir, pastikan... kalian harus menemukan suara kalian sendiri.[]
(Asep andri)

Rabu, 27 Februari 2013

Dana UKM-HMJ Masih Proses



Fats0eN – IAIN Cirebon,. Hingga menjelang pertengahan Februari dana kegiatan UKM dan HMJ belum diberikan dan belum diketahui berapa jumlah yang akan digelontorkan. Dalam hal ini Purek III, Prof. Dr. H. Cecep Sumarna, M.Ag saat dimintai penjelasan oleh  METHODA (14/02) di ruang kerjanya menyatakan, “Sampai saat ini belum ada keputusan final, karena masih dalam proses. Makanya nanti regulasi keuangan mungkin baru bisa diproses akhir maret” ujarnya.

Oleh karena itu UKM-HMJ yang ingin mengadakan kegiatan, tidak bisa mengandalkan dana yang seharusnya mereka dapatkan. Ketua HMJ EDSA (English Department Student Assosiation), Rifqi, menyatakan (14/02), “ untuk acara English Contest kemaren, selain dari uang pendaftaran, kami harus cari dana kesana-kemari, termasuk ngutang ” ”Tuturnya.  Lebih lanjut dia menambahkan bahwa dari 12 juta biaya acara tersebut, pihak lembaga hanya meng-ACC 3 jt dan itupun belum bisa mereka dapatkan.

Rajudin selaku ketua himpunan mahasiswa Bahasa Arab (ITLA) didampingi dengan Rian Najarudin yang menjabat sebagai Kabid DPO mengatakan, “acara GBA (Gebyar Bahasa Arab) sejawa tahun kemarin, biaya yang dikeluarkan minimal 30 jutaan dan lembaga memberikan tidak secara keseluruhan dan untuk menutupi itu mereka pun bekerja sama dengan pihak lain, Insya Allah kami akan mengadakan acara GBA tingkat nasional  kembali bulan April depan.” Ungkapnya. Lebih lanjut mereka mengharapkan bahwa pihak lembaga ikut memberikan dukungan moril yang lebih tidak hanya dukungan financial saja. (Rania)

Selasa, 26 Februari 2013

Pada Mulanya Adalah ‘Kata’


Oleh; Doamad Tastier*

            ‘Kata’ secara sederhana mungkin hanya merupakan sebuah sistem tanda. Ia merupakan sebuah penanda untuk menunjuk satu hal tertentu. Ketika sesuatu yang enak dipandang mata mungkin kita namakan dengan ‘cantik’. Dengan ‘kata’ semua konsep dalam pikiran manusia terungkap.

            Banyak hal yang berawal dari kata. Hubungan laki-laki dan wanita bisa menjadi halal  dengan ‘kata’ (Qobul). Bisa menjadi harampun dengan ‘kata’ (talaq). Mungkin ‘kata’ terlupakan dalam pikiran kita. Padahal ia begitu dekat. Ia merupakan unsur yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Bagaimana kita mengabstraksikan apa yang kita rasa, kita lihat, kita cium, kita dengar adalah dengan ‘kata’. 

            Tuhan mewahyukan firmanNya berupa ‘kata’. Sehingga Subagio dalam salah satu puisinya mengatakan bahwa “kita percaya kepada Tuhan karena ‘kata’”. Muhammad pun pertama kali menerima titah Tuhan adalah berupa ‘kata’; iqro. Ia menyampaikan kepada umatnya lewat ‘kata’. Kaumnya mengejek sebagai orang gila; melalui ‘kata’. Dan mungkin kadang tak terpikirkan pula; pertama kali yang diajarkan oleh orang tua ketika menyambut kelahiran sang anak adalah ‘kata’.

 ‘Kata’ juga bisa menjadi alat persuasi yang ampuh. Bagaimana Soekarno membakar semangat Pejuang Indonesia adalah dengan ‘kata’. Bagaimana virginitas terenggutpun sering kali lewat ‘kata’; gombalisme. Ia bisa menajdi madu juga bisa jadi racun. Bahkan apa yang anda baca sekarang pun hanyalah kumpulan ‘kata’.

Pada mulanya adalah ‘kata’. Mungkin benar adanya. Namun saya yakin ada hal yang tak bisa dijangkau oleh ‘kata’ dalam diri manusia. Yaitu keterbatasan ‘kata’ dalam menyingkap hakikat. Sukar sekali memahami apa yang dimaksud oleh Hallaj ketika ia berujar “Ana Al-Haq”. Di situ ‘kata’ tak bisa lagi pongah untuk mewakili sesuatu secara utuh. Ia mempunyai keterbatasan. Karena bagaimanapun ‘kata’ ternyata tak mampu menyelamatkan sufi agung dari Mursia ini.

Ah, mungkin sudah terlalu klise untuk mengutip kata-kata Juliet dalam Romeo and Juliet; sebuah karya agung Shakespeare. Namun agaknya tak terlalu salah juga.
“What’s in a name?
That which we call a rose
By any other name would smell as sweet.”
[“Apa arti nama?
Yang kita sebut mawar
Akan tetap harum biarpun bernama beda”]
 Apalah arti nama (kata) jika essensinya tetap sama? mungkin seperti itu yang dimaksud dalam lakon Shakespeare ini; ketika nama keluarga menjadi batas atas hubungan mereka.

Sehingga saya rasa terlalu berlebihan ketika manusia masih mempermasalahkan bagaimana Tuhan harus dinamakan. Toh, mau dinamakan apa dan sebagainya, selagi essensi yang dimaksud adalah Robbul ‘alamin tetap tak mengurangi ketuhanan Tuhan. Sebagaimana mawar yang tak akan hilang keharumannya jika disebut dengan nama lain.

Namun memang tak bisa dielakan, dalam berbagai hal, ‘kata’ membawa implikasi yang berbeda. ‘Kata’  akan menjadi begitu mahal ketika ia dikaitkan, misalnya, dengan identitas. Suatu barang akan menjadi mahal dengan menjual merk dagang yang bonafid. Yang tentunya dibarengi dengan kualitas yang terjamin.

Atau ‘kata’ juga bisa menuntut persyaratan-persyaratan tertentu. Seperti misalnya jika ingin ada ‘kata haji’ di depan namanya; maka melaksanakan ibadah haji terlebih dahulu. Atau ‘Gus’ bagi anak Kyai. Jika tidak, ya jangan harap. Atau untuk membeli franchise suatu perusahaan harus membayar jutaan, milyaran bahkan trilyunan rupiah.

Namun dengan keterbatasan ‘kata’ setidaknya ia harus semaksimal mungkin agar bisa mewakili apa yang ditandai. Supaya ia (signified) sesuai dengan penandanya (signifier). Sehingga ia tak hanya akan menjadi ‘kata’ yang membohongi dan penanda yang menyesatkan. Atau juga sekedar untuk mengejar gengsi semata. Dan mungkin begitu halnya dari kata IAIN menjadi UIN... [ ]

Wallahu A’lam Bishowab
                                    *Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris, dan Pegiat LPM FatsOeN


Dua Maling Motor Kena ‘DO’


       FatsOeN – IAIN Cirebon, Tertangkap kamera CCTV membawa kabur motor milik NC (mahasiswa PBI), Sabtu (19/1), dua orang mahasiswa, RF dan UG kena DO (Drop Out). Dua mahasiswa ini, RF (semester 6) dan UG (semester 4), kabur bersamaan setelah berhasil menemukan kunci motor korban. Dari penuturan korban yang turut serta menggerebek tersangka di tempat tinggalnya. Itu diketahui keduanya masih mahasiswa IAIN.

     Keterangan yang diperoleh METHODA, RF dan UG yang keluar dari gedung PBI tahu betul target pencuriannya, sedang UG mengendarai motornya sendiri. Kebetulan motor jenis Honda Beat NoPol E 3627 HI diparkir pemiliknya di depan gedung PBI. NC keluar gedung karena ada perlu dan tidak tahu kuncinya tertinggal di kelas. Setengah jam kemudian, NC kembali dan mendapati motornya tidak ada di tempat.
Sontak NC terkejut dan langsung menanyakan seorang saksi yang kebetulan berada di TKP. Saksi mengiyakan bahwa motornya baru saja dibawa seseorang. Korban langsung melaporkannya ke security, dan dimintai STNKnya guna melacak tersangka melalui data CCTV. Setelah dilacak, security menemukan datanya, dan NC mengantongi bukti untuk dilaporkan pada pihak kepolisian setempat.

      Selama dua minggu, NC terus mencari keterangan para saksi dan berhasil menelusuri alamat tersangka. NC menjelaskan, bersama dengan security kampus dan informan, dirinya mendatangi tersangka di rumahnya, namun tidak ada di tempat. Motor curian tersebut ada di rumah teman tersangka, dan telah bertransformasi. “Motornya udah beda, skotletnya hitam, nggak ada spion, nggak ada plat nomor, bannya diganti”, jelas NC saat ditemui METHODA, Rabu (13/2).

     Akibat perbuatannya, RF dan UG di Drop Out dari IAIN. Salah seorang security kampus Sumarjo menjelaskan, barang bukti sudah diambil dan dibawa pihak kepolisian. “Pelaku dipecat, dikeluarkan dari kampus”, tandasnya, Senin (11/2). Kini barang bukti sudah diambil pemiliknya. Berdasarkan keterangan korban, dirinya merasa sangat dirugikan, sedang orang tua RF dan UG mengatakan bahwa anaknya belum kembali ke rumah. “Surat Pencabutan Perkara sudah dibuat, siap ditandatangani saya. Tapi saya belum tanda tangan sebelum ketemu ama RF”, pungkas NC (Vivi, Josh).

HIMKA GELAR LIGA MATAMATIKA SE-JAWA BARAT YANG KE-13



FatsOeN-IAIN Cirebon, Himpunan Mahasiswa Matamatika (HIMKA) Mengadakan  liga matematika tingkat SD-SMA Se-Jawa Barat dengan tema ”Kuasai bilangan dalam genggaman, tuangkan potensi dalam aksi dan capailah prestasi dalam kompetisi”. Acara yang berlangsung turun temurun ini adalah acara yang ke13 kalinya diadakan oleh HIMKA dan berlangsung selama 6 hari sejak tanggal 18 sampai dengan tanggal 23 februari bertempat di ICC IAIN Cirebon.

Lomba ini diikuti oleh 490 peserta dari seluruh tingkat SD-SMA yang diwakili oleh 50 sekolah. Berbagai macam lomba seperti Lomba Olimpiade Matematika tingkat SD-SMA, Lomba Hitung Cepat Matematika (LHCM) yang diikuti oleh tingkat SD-SMP, Lomba cerdas tangkas matematika (PCTM) yang hanya di ikuti oleh tingkat SMP dan yang terahir adalah lomba rangking 1 matematika yang diikuti oleh semua kalangan. Selain itu, acara ini juga memperebutkan piala bergulir diantaranya  piala wali kota dalam lomba LHCM serta piala gubernur melalui Lomba Olimpiade matematika.

Habib Qolyubi selaku ketua pelaksana acara tersebut mengungkapkan bahwa acara ini bertujuan untuk  memotivasi para siswa agar berprestasi dan berkompetisi, serta ingin menggali potensi para pelajar di tingkat SD sampai SMA, ungkapnya dengan semangat. Acara ini berlangsung sangat meriah dan menegangkan. Seperti yang di ungkapkan oleh Kevin siswa SMPK Penabur Cirebon, “jujur tadi perasaanku deg-degan karena ini baru pertama kalinya aku ikut lomba olimpiade matematika”, ungkapnya dengan senyum yang khas. Ia berharap bisa menjadi yang terbaik dalam acara tersebut.

 Ia juga mengungkapkan hal yang menarik dalam acara tersebut adalah  banyaknya  perdebatan di bidang ilmu Matematika. Adapun Zahra Salsabila, siswi dari SMP Sekarkemuning ini mengungkapkan bahwa ia merasa nervous ketika mengikuti acara tersebut. Ia juga mengungkapkan  kebanyakan peserta memiliki kemampuan diatas rata-rata. “Pertama sih nervous, soalnya pesertanya pinter-pinter”. Tuturnya kepada Methoda.

Sementara itu ketua umum HIMKA Reza Muhammad Zaenal mengungkapkan bahwa acara ini bertujuan untuk menumbuhkan minat dan motivasi dalam mempelajari matematika sebagai ratunya ilmu dan ia juga mengungkapkan bahwasanya ini  adalah program terbesar dari HIMKA setiap tahunya dan selalu berjalan dengan baik walaupun ada beberapa kendala diantaranya yaitu sulitnya menjangkau seluruh sekolah yang ada di Jawa barat ungapnya dengan tegas. (Pendi)

Mekanisme Kebijakan Semi-Online



FatsOeN-(11/2) Pihak lembaga mengeluarkan kebijakan baru di tahun ajaran 2013, yaitu mekanisme pembayaran SPP yang mengharuskan mahasiswa mendatangi salah satu bank yang ditunjuk oleh lembaga.

 Tetapi Kebjiakan tersebut dinilai merepotkan bagi mahasiswa. Salah seorang mahasiswa yang tidak mau disebutkan identitasnya mengungkapakan mekanisme tersebut terlalu merepotkan. “Sebenarnya saya merasa malas kalau harus mendatangi bank, mending kalau dekat. Tempatnya kan jauh mas. Kalo bisa transfer aja, kan lebih gampang”. Paparnya.
 Namun ketika hendak dimintai keterangan mengenai mekanisme tersebut, pihak administrasi sedang tidak ada di tempat.

Sehubungan dengan hal tersebut, Pembantu Rektor II, Prof. Dr. Wahidin, M.Pd di sela-sela kesibukannya menyatakan bahwa mekanisme tersebut adalah bagian dari proses pembayaran online yang kini sedang dijalankan. Ia mengungkapkan bahwa mekanisme ini masih harus dikembangkan untuk beberapa tahun kedepan. “Sebenarnya ini adalah bagian dari proses menuju sistem online, untuk saat ini memang mahasiswa masih harus mendatangi pihak bank untuk melakukan pembayaran. Namun untuk beberapa tahun kedepan mudah-mudahan sudah berjalan karena masih dalam pengembangan”, ungkapnya.
 Ia menambahkan jika sistem online tersebut sudah berjalan, mahasiswa bisa melakukan transfer dari bank manapun dan bahkan untuk pengisian Kartu Pendaftaran Program Studi (KPPS) juga bisa dilakukan secara online. 

Ketika disindir mengenai kebijakan yang mengharuskan mahasiswa mengajukan cuti jika telat membayar SPP ia mengungkapkan bahwa sebenarnya pihaknya telah memberikan perpanjangan batas waktu pembayaran, “Masalah itu kami sudah perpanjang batas waktunya sampai tanggal 18 Januari. Jika melebihi batas tersebut mahasiswa harus mengajukan surat permohonan cuti. Jika tidak, bisa-bisa DO (Drop Out),” tandasnya. 

Di sisi lain, Mahasiswa menilai kebijakan tersebut memberatkan mahasiswa yang tidak mampu. Karena tidak semua mahasiswa IAIN adalah orang berada. Erdi, salah seorang Mahasiswa tarbiyah mengatakan kebijakan tersebut terlalu berlebihan, seharusnya mahasiswa diberikan dispensasi karena mahasiswa juga ingin belajar bersama. “ Menurut saya kebijakan itu kurang tepat, bagaimana jika memang mahasiswanya benar-benar tidak mampu. Karena tidak semua mahasiswa dari kalang orang kaya, ada juga yang harus bekerja terlebih dahulu. Harusnya dikasih dispensasi”, ungkapnya. 

Senada dengannya, Mulyono yang juga mahasiswa tarbiyah ini mengnungkapkan kebijakan tersebut masih memberatkan mahasiswa, “Kalau menurut saya dikasih dispensasi terlebih dahulu dalam jangka beberapa bulan, kasihan kan kalau misalkan memang mahasiswanya benar-benar tidak mampu bayar”. Tambahnya. (Prim/Ziest) 

Kamis, 14 Februari 2013

Valentine dan Asma Al-Husna


Sebuah Kado Kecil untuk Peri-Peri Kecilku*
Oleh; Doamad Tastier
Catatan Harian 14 Februari 2013

“Cinta adalah satu-satunya bunga yang tumbuh dan mekar tanpa bantuan musim” ( K. Gibran, The Broken Wings ).

Aku sebenarnya tidak begitu faham apa hubugan valentine dengan cinta. Februari dengan valentine dan segala tetek bengek yang berkaitan dengan valentine’s day; lagian seingatku memang aku tak pernah merayakan hari valentine dan bahkan kadang tak mengingatnya sama sekali ( hanya beberapa saja yang aku ingat ). Namun apa salahnya jika pada hari ini aku coba menulis tentang valentine’s day. Semoga tak ada yang mengkafirkanku atau sekedar iseng membocorkan ban motorku setelah aku posting tulisan ini; capek mas / mba nambalnya.
Banyak versi tentang sejarah hari valentine. Belum ada sumber yang bisa meyakinkanku tentang sejarah perayaan ini. Dan rasanya tidak perlu aku tulis beberapa versi sejarah itu, karena bisa di-browsing dengan mudah toh, hehe. 
Ketika jariku mencoba menulis tulisan ini. Aku merasa ada sebuah kebodohan dan teriakan dari keyboard notebook-ku yang terus membodoh-bodohkanku; tahu apa kau? Kurang lebih seperti itu. Mereka terus menolak untuk aku ketik. Aku paksa. Dan, ah masa bodoh. Aku hanya ingin menulis, that’s it.
Bolehlah sekiranya aku mengutip mutiara Gibran “Cinta adalah satu-satunya bunga yang tumbuh dan mekar tanpa bantuan musim”. Ia bisa tumbuh kapan saja dan di mana saja. Dan bagi yang suka nonton film horror Indonesia (yang ‘filmnya suka tidak jelas itu). Mungkin tahu tokoh Jelangkung dengan semboyannya “datang tak dijemput. Pulang gak diantar”. Mungkin sepeti itu.
Aku buta sastra, tak tahu apa maksud Mas Gibran sesungguhnya dalam The Broken Wings itu. Sehingga aku minta ma’af, terutama pada Mas Gibran dan para pengagumnya, jika pemahaman aku salah total dan tidak nyambung dengan apa yang dimaksud sampean, Mas Gibran. Semoga sampean mengerti bahwa jika teks yang sampean tulis bebas untuk ditafsirkan oleh pembacanya. Walaupun pada saat itu Derrida belum lahir dan menggagas tentang ‘kematian subjek/penulis’ dalam tulisan. 
Lalu bagaimana jika tanggal 14 februari dijadikan hari kasih sayang? Pada dasarnya (terlepas dari sejarah suram valentine’s day) kasih dan sayang adalah sifat Tuhan; Ar-Rohman dan Ar-Rohim. Nama itu termasuk dalam nama-nama Tuhan yang baik (Asma Al-Husna) yang ada 99- walaupun aku yakin nama Tuhan tak terbatas pada 99 nama itu. Apalagi manusia memang diperintahkan untuk saling menyayangi dan mengasihi. Dan diketahui bersama; pers, ibu, pendidikan, pahlawan, buruh, dan lain sebagainya, ternyata punya harinya masing-masing; kasih sayang pun sepertinya iri ingin punya hak yang sama seperti mereka (ngaco ya ? ? hehe). 
Sehingga pertanyaan selanjutnya adalah deviasi/penyelewengan dari pemaknaan dan pengejawantahan kasih dan sayang itu?
Penyelewengan itu pasti ada di manapun dan di apapun. Pas perayaan idul fitri? banyak penyelewengan. Banyak toh yang merayakannya kaya perayaan valentine sekarang ini. Agustusan ? ada juga yang menyeleweng. Lalu apa lagi valentine? Aku rasa selagi masih di dunia, keburukan tak akan bisa terlepaskan. Salah satu tempat yang (katanya) paling steril dari keburukan (atau meminjam dari kamus agama; dosa) adalah di surga kelak.
So what to do?
“You are loved” sebuah film pendek yang sarat dengan pesan suci kasih sayang. Bahkan, bagi yang punya otak dan bisa berfikir, adalah sebuah tamparan. Bagaimana kasih sayang dan ketulusan yang hakiki diilustrasikan. Bukan dengan benda yang mahal atau berharga (bagi keumuman), tapi hanya sebuah bunga kertas yang dibuat dengan payah dalam keterbatasan. Namun melampaui itu semua adalah ketulusan kasih sayang terhadap sesama. (Ooaallahh,,, tumben pisan ngomongnya kaya orang bener cah…haha).
Dan mungkin itulah yang disebut oleh Asep Andri dengan 'hakikat memberi'; memberikan apa yang menurut kita paling berharga kepada orang yang benar-benar membutuhkan.
Satu kutipan menarik dari Mbah Gandi di ending film itu “love never claims, it ever gives” cinta tak pernah menuntut. Ia justru memberi. 
Yo ketika valentine kan ‘pacar’ ngasih coklat, bunga, boneka, kasih sayang dan lain sebagainya? It gives toh? 
Of course. Tapi pemberian itu kan menuntut. Setidaknya menuntut balasan Cinta. Love claims love as well. Bahkan kadang lebih dari itu; pemenuhan hasrat seksual. So is it still called love according to Mbah Gandi? Masihkah dianggap cinta oleh Gandi? (lah sih..kok malah khotbahin jeh?? Hehe).
Satu hal lagi yang menarik dari film itu; tak ada dialog sama sekali. Aku jadi terfikir, apa karena cinta itu memang terlalu absurd untuk diverbalkan? Entah lah.
Terlepas dari itu semua, wahai peri-peri kecilku. Paman coba bungkus kado cinta ini untuk menemani kalian bermain. Sebelum suatu saat nanti kado cinta itu tebagi dengan calon bibi kalian…hehe

Be Mine, Valentine..!!

*Qothrotun Nadya dan Muhammad Alfin Mubarok

Minggu, 03 Februari 2013

DERITA SAUDARA KITA YANG HIDUP DIPERBATASAN



Oleh: Azis Ibnu Thufail
Sore tadi sekitar jam 16.00, saya menonton acara televisi mengenai kehidupan masyarakat Kalimantan Barat, tepatnya di Desa Gun Tembawang. Dalam acara tersebut diceritakan bagaimana mereka hidup di pelosok negeri yang membuat hidup mereka terasing. Ketika seorang reporter mewawancarai kepala desa setempat, ia mengatakan bahwa pendidikan di desanya tidak berjalan karena tidak adanya infrastruktur yang mendukung dan tidak adanya guru untuk mengajar. Kepala desa tadi melanjutkan,”bendera merah putih yang berkibar di atas tiang itu, tidak berarti bagi warga kami. Indonesia memang sudah merdeka, tapi kami di sini belum merasakan kemerdekaan,”ujarnya saat diwawancarai.
Kondisi seperti ini membuat warga desa ini banyak yang lebih memilih tinggal di Malaysia. Seorang anggota TNI yang sedang berjaga di pos perbatasan, mengatakan warga Malaysia yang berada di perbatasan tidak mengalami kesulitan dalam hidupnya, sedangkan warga indonesia di sini jauh dari kata layak hidupnya.
Ada yang unik dalam acara sore itu ketika dua warga perbatasan Indonesia dan Malaysia saling bertukar pengalaman tentang negaranya masing-masing.
Warga perbatasan Malaysia bertanya: bagaimna kondisi pelayanan kesehatan di daerah anda?
Warga perbatasan Indonesia menjawab: saya tidak pernah mendapatkan pelayanan kesehatan dari pemerintah, saya lebih memilih berobat ke malaysia. Kalau di Malaysia bagaimana?
Warga perbatasan Malaysia menjawab: walaupun kita hidup diperbatasan, tapi setiap bulan pemerintah menggunakan helikopter berkunjung ke sini untuk mengadakan pengobatan gratis.
Yang membuat saya heran adalah ketika pejabat pemerintah kalimantan Barat diwawancarai mengenai warganya yang lebih memilih tinggal di malaysia. Dia menjawabnya dengan enteng sekali, bahwa setiap warga negara bebas untuk pindah kewarganegaraannya jadi anda tidak usah repot-repot memikirkannya.
Ya inilah sekelumit nasib saudara-saudara kita yang hidup diperbatasan, semoga para birokrat dapat peduli terhadap permasalahan di atas, jangan hanya dengan mudah memberi ijin tambang. Tapi warganya tidak dipedulikan.

Sabtu, 02 Februari 2013

JAWA VS SUNDA

VERSI JAWA:
Enemy at the Gates — Musuhe Wis Tekan Gapuro
Die Another Day — Modare Ojo Saiki
Die Hard — Matine Angel
Die Hard II — Matine Angel Tenan
Die Hard III With A Vengeance — Kowe Kok Ra Mati-Mati To?
Die Hard IV (Die) – Jan Tenanan, Arep Mati Kok Angel Tenan
Bad Boys — Bocah-Bocah Elek
Catwoman – Kucing Wedok
Man of Fire — Wong Lanang Kesumuken
No Way Back — Ora Iso Mulih (kesasar to?)
Just Married – Mantenan
Red Eye — Matane Abang (klilipan opo?)
Casino Royale – Togel Akeh Duite
The Hoax — Ngapusi
Harry Potter – Harry Dodol
Pot Lost in Space — Ilang Neng Awang-awang
X-Men — Wong Lanang Saru
X-Men 2 — Wong Lanang Saru Tenan
Cheaper by the Dozen — Tuku Selusin Luwih Murah
Paycheck — Kasbon
Independence Day — Pitulasan
There is Something About Marry — Meri Ono Apa-Apane
Silence of the Lamb — Wedhuse Mutung
All The Pretty Horses — Jarane Ayu-Ayu
Planet of the Apes — Planete Wong Apes
Gone in Sixty Second — Minggat Sakcepete
Original Sin — Dosa Tenanan
The Abyss — Entek-Entekan
Deja Vu — Pangling
Seabiscuit — Klethikan Neng Laut
Terminator — Terminal Montor
How To Lose A Guy in 10 Days — Piye Carane Megat Lanangan Mung 10 Dino
Lord Of The Ring — Pedagang Akik
Deep Impact — Ngantem Njero
Million Dollar Baby — Babi Regone Sayuto
Blackhawk Down — Manuk Ireng Kenek Bedhil
Saving Private Ryan — Ngelesi Privat Mas Ryan (pancene goblog tenan opo?)
Gone With The Wind — Wes Ewes Ewes, Bablas Angine
Because I Said So — Dikandani Kok Ngeyel Temen Sih
Superman — Gatot Koco
VERSI SUNDA:
Saving Private Ryan – Nulungan si Rian
Enemy At The Gate – Musuh Ngajedog di Pager
Die Hard – Teu Paeh-Paeh
Die Hard II – Can Paeh Keneh
Die Hard III With A Vengeance – Nya’an euy Hese Pisan Paehna
meet the fockers – nemu jancoke
Bad Boys – Leutik-leutik legeg
Rocky – Osok Neunggeulan Batur
Rain Man – Lalaki Cicing di Bogor
There’s Something About Marry – Ari Ceu Meri Teh Kunaon?
Mission Impossible – Moal Bisa
Titanic – Tilelep
Paycheck – Nganjuk Heula
Reign of Fire – Beubeuleuman
Original Sin – Tara Ka Mesjid
Sleepless In Seattle – Cenghar Di Ciateul
Silence of The Lambs – Embe Pundung
Ghost – Jurig Kasep
Bad Boys – Budak Bangor
Are We There Yet? – Lila Teuing Nepina Euy?
Home Alone – Tinggaleun
Casablanca – Mengkol Ti Sudirman
Gone In Sixty Seconds – Indit Siah Kaditu!
The Awakening – Hudang Sare
After The Sunset – Tereh Maghrib
The End of Days – Se’ep Waktosna
haha..enjoy this…


Pancasila Sunda

hiji : Gusti Allah eta sorangan sareng ageng pisan
dua : ka sorangan teh sikapna kudu sami, ulah ngabeda beda keun...
tilu : Indonesiakuduna mah jadi hiji
opat : Ra'yat Indonesiasae na pang mutuskeun sagala teh disepakatkeun heula. Kedah bager lan bijaksana
lima: Ceunah teh sikap sosialna kudu adil hiji sareng batur



Pancasila Jawa

siji : Gusti Allah ora ono koncone
loro : Dadi wong kudu ding adil lan ojo kejem kejem
telu : IndonesiaBersatu kabeh
papat : Karo tonggo tonggo nek ono masalah diomongno bareng bareng opo o
limo : mangan ra mangan sing penting kumpul


Glosary; Cokot dalam bahasa jawa berarti gigit-dalam bahasa sunda berarti ambil.
atos dalam jawa berarti keras,dalam bahasa sunda berarti sudah. ini contoh percakapan Majikan dari tatar sunda dan pembantu dari jawa tengah;

Majikan: minaaaaahhhh...cokot pispot !
Pembantu: ??!!**@ walaaahhh...yo atos to nyaaaahhh..
Majikan: bagus...
http://mbaawoeland.blogspot.com

Proses Kerja Jurnalistik


LPM FatsOeN IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 30 Januari 2013
Pembicara:
Nurul Fajri

Nurul Fajri:
Assalamualaikum wr.wb, sebelumnya saya minta maaf telat, di luar hujan. Baiklah teman-teman dalam kajian ini kita santai saja, jangan menganggap saya seperti guru atau ada istilah senior-junior, kita di sini sama-sama belajar.
Sekarang saya ingin berbagi dengan teman-teman mengenai proses kerja jurnalistik, khususnya dalam LPM FatsOeN. Di dalam proses jurnalistik ada beberapa proses yang harus dilalui, saya akan jelaskan proses kerja di LPM FatsOeN dalam menerbitkan buletin Methoda, yaitu:
1. Proyeksi
Dalam proyeksi kita mengumpulkan isu-isu, menentukan tema, kemudian menentukan berita apa yang akan diliput.
2. Reportase
Pengumpulan data, fakta, mencari narasumber. Pada intinya reportase adalah mencari bahan berita.
3. Listing/Budgeting
Sebagai bahan evaluasi reportase, mengumpulkan hasil reportase. Usahakan untuk bagian redaksi untuk selalu follow up reporter, tanyakan sudah sejauh mana bahan berita yang dihasilkan, untuk mengantisipasi tidak adanya berita ketika akan terbit.
4. Pengetikan
Bahan berita yang sudah didapatkan lalu diketik.
5. Editing 
Dikerjakan oleh redaktur
6. Layout dan Pra Cetak
Yang menjadi kelemahan kita adalah pada proses pra cetak, seharusnya sebelum Methoda di cetak di print terlebih dahulu kemudian dibaca untuk mengantisipasi ada kesalahan baik dari segi layout maupun bahasa.
7. Cetak
8. Sirkulasi
Teman-teman harus hafal proses kerja di atas, karena point-point di atas menjadi standar kerja LPM FatsOeN dalam membuat buletin Methoda. Cukup kiranya pembahasan di atas sebagai pengantar, selanjutnya silahkan kepada teman-teman barangkali ada yang perlu ditanyakan.
Penanya 1:
Bagaimana cara membuat judul?
Nurul Fajri:
Haram hukumnya membuat judul terlebih dahulu dalam menulis berita, tulis saja isi berita setelah selesai buat judulnya yang menarik.
Penanya 2:
Bagaimana membuat angle berita?
Nurul Fajri:
Dalam membuat angle insting wartawan harus peka terhadap data dilapangan, jangan membuat berita yang biasa saja, buatlah berita yang woow. Kemudian jangan kaget angle yang telah dibentuk dalam berita, bisa dirubah oleh redaktur.
Penanya 3:
Bagaimana cara menentukan tema?
Nurul Fajri:
Dalam menentukan tema harus mengedepankan segi aktualitas (terupdate), kita harus peka terhadap isu-isu yang sedang hangat di lapangan. Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman, tema itu tidak harus untuk menentukan berita. Jadi beritanya tidak harus sesuai dengan tema, cukup dua berita yang berhubungan dengan tema.
Penanya 4:
Bagaimana mengatasi narasumber yang susah ditemui?
Nurul Fajri:
Usahakan setiap wawancara minta no HP narasumber, kemudian teman-teman bilang ke narasumber, “Pak saya miscall ya, itu no saya, tolong di save ya”. Ketika waktu deadline narasumber susah untuk dihubungi, coba di telp kalau tidak diangkat, langkah terakhir sms. Kalau ternyata di sms pun tidak di balas, teman-teman bisa tulis apa adanya bahwa narasumber susah untuk dihubungi dan jangan lupa bukti telp dan sms teman-teman di save, untuk mengantisipasi gugatan dari narasumber.
Teman-teman, sepertinya cukup ya kajian hari ini, jangan terlalu banyak yang penting teman-teman memahaminya. Kurang dan lebihnya saya minta maaf.
Wassalamualaikum wr.wb

Manfaat Bangun Subuh


Bila bisa bangun pagi, kenapa harus bangun siang? Menurut Agama dan menurut penelitian mengatakan bangun pagi itu jelas lebih baik dari pada bangun kesiangan! lalu, ketika kita sudah mengetahui bangun pagi itu sangat bagus kenapa kita tidak melaksanakannya. Bukankah kita manusia yang yang dapat mengembangkan akal pikirannya, dapat berpikir, dan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. kita sudah tau bangun subuh (pagi) itu baik dan bangun kesiangan itu buruk. Tetapi hanya sebagian yang melaksanakannya. Sungguh yang sebagian lagi lebih mendengarkan nafsunya yang berasal dari setan. Ayoo paksakan dirimu untuk dapat bangun pagi. Insya Allah tidak akan menyesal Bro.. \^O^/
Menurut para ahli di bidang kesehatan, udara di sepertiga malam yang terakhir apabila malam dibagi menjadi tiga bagian waktu—sangat kaya dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat-zat lain sehingga sangat bermanfaat dalam mengoptimalisasikan metabolisme tubuh. Hal ini akan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap vitalitas seseorang dalam aktivitasnya selama seharian penuh. Inilah anugerah yang luar biasa besar dari Tuhan yang diberikan melalui kesegaran alam di waktu pagi untuk makhluk-Nya.

Pagi-pagi adalah waktu yang sangat baik untuk berolahraga. Semakin awal Anda bangun, semakin banyak kalori yang dapat Anda bakar sepanjang hari dan Anda akan selalu merasa sehat. Penelitian juga membuktikan bahwa orang yang berolahraga di pagi hari cenderung lebih konsisten dalam menjaga kebugaran badan mereka. 

Oleh karena itu, bagi siapa saja yang ingin merasakan kesehatan yang optimal semenjak pagi hari sehingga dengan kesehatannya itu bisa bekerja dan menjemput rezeki dengan lebih baik maka jangan tidur pagi. Mengenai hal ini, bila ingin membuktikan, coba Anda rasakan bagaimana bedanya melakukan aktivitas seharian dengan bangun pagi-pagi atau tidak tidur pagi dengan bangun pagi-pagi atau tidak tidur lagi setelah bangun pagi. Orang yang bangun pagi atau tidak tidur lagi setelah bangun pagi tentu akan merasakan badan lebih fit daripada orang yang bangun siang atau tidur lagi setelah bangun pagi. Selain itu menurut sebuah studi terbaru dari London, mereka yang terbiasa bangun lebih pagi akan memiliki bentuk tubuh lebih ramping, lebih bahagia, dan sehat ketimbang mereka yang terbiasa bangun di siang hari. 

Peneliti menambahkan, pada orang yang mempunyai kebiasaan begadang hingga larut malam, biasanya akan cenderung memiliki perasaan tertekan atau stres lebih tinggi dan berpotensi mengalami kelebihan berat badan. 

Dalam pengamatannya, peneliti telah mewawancarai 1.068 orang dewasa terkait kesehatan dan kebiasaan tidur mereka. Hasilnya diketahui bahwa mereka yang terbiasa bangun pagi umumnya rata-rata mengawali aktivitas lebih awal, lebih bahagia dan bobot yang lebih ideal.  

Ritual mandi pagi adalah awal yang penting mengawali hari dengan semangat. Saat mandi pagi, tubuh kita yang masih menyisakan lelah setelah tidur semalaman bisa terasa segar dan siap melakukan aktivitas. Banyak orang enggan beranjak dari tempat tidur ke kamar mandi karena alasan air yang terlalu dingin. Padahal, air dingin tak hanya menyegarkan kulit tapi juga meningkatkan sistem kerja otot sehingga lebih fleksibel dan siap bergerak semangat.

Dalam konferensi British Psychological Society, Huber menjelaskan alasan mengapa yang rutin bangun pagi lebih beruntung dan punya kualitas hidup lebih baik. Hal itu merujuk pada fakta bahwa melakukan tugas-tugas rutin di pagi hari dan mengurus anak di saat yang tepat justru membantu membuat tubuh menjadi lebih bugar di tengah ketatnya kehidupan modern. "Mungkin tipe orang yang rutin bangun pagi lebih cocok untuk dunia industri seperti saat ini, ketimbang mereka yang bangun kesiangan,"
http://asalasah.blogspot.com